Cinta adalah kata-kata yang sering kita dengar dan juga
sering diucapkan oleh banyak orang. Tetapi setiap manusia pasti memiliki
pendapat yang berbeda tentang cinta. Sekarang kita akan membahas tentang cinta kasih
menurut agama dan negara.
Kita mulai dari pengertian cinta kasih menurut agama. Cinta
adalah sebuah perasaan diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling
mencintai, saling memiliki, saling memenuhi saling pengertian. Cinta tidak
dapat dipaksakan, cinta juga datang secara tiba tiba. Kasih dimana sesuatu yang
memiliki hal yang sangat berarti untuk saling menghargai antara sesam manusia.
Cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek
lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang,
membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang
diinginkan objek tersebut.
Kemudian mari kita lihat
pengertian cinta menurut negara. Secara umum cinta kasih menurut negara dapat diartikan
dengan pengorbanan dan kesetiaan. Kita sebagai warga negara diharuskan
mencintai dan mengasihi negara kita sendiri. Negara kita mempunyai Pancasila
yang dijadikan pedoman hidup.
Seorang ahli kenegaraan kita menegaskan bahwa Pancasila diyakini sebagai pusaka
yang merupakan kebenaran fundamental nan kaya raya. Dalam hal ini, sang ahli
tersebut mengemukakan bahwa suatu filsafat manusia yang secara mendasar sudah
terpadatkan dalam Pancasila. Dengan demikian berarti pancasila tidak terlepas
dari pengajaran cinta kasih. Pancasila mengajarkan kita bahwa hidup ini
haruslah bertakwa pada Tuhan (cinta kasih pada Tuhan) dan selalu mengutamakan
kebersamaan (cinta kasih pada sesama manusia).
Contoh kasus yang akan saya ambil iyalah kejadian yang
sangat terkenal yang terjadi di tanah air kita tercinta ini yaitu, Sumpah
Pemuda.
Sumpah Pemuda menggelorakan komitmen dan kebesaran jiwa
untuk mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kebaikan hidup kebangsaan.
Bagi pemuda-pelajar yang terdidik dalam persekolahan bergaya Eropa, penggunaan
bahasa Indonesia dalam Kongres Pemuda Indonesia ke-2, 28 Oktober 1928, membawa
kesulitan yang serius: menimbulkan kegagapan bagi pembicara dan kebingungan
bagi pendengar. Sebagian peserta yang mencoba berbahasa Indonesia gagal, dan terpaksa
menggunakan bahasa Belanda. Salah seorang di antara mereka adalah Siti
Soendari, perwakilan Poetri Indonesia. Tetapi, komitmen kebangsaan
membangkitkan tekad untuk menaklukan segala kesulitan. Hanya selang dua bulan
sejak peristiwa itu, Siti Soendari secara heroik sanggup berpidato dalam bahasa
Indonesia pada Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta, 22-25 Desember 1928.
Sumpah Pemuda juga mencerminkan kebesaran jiwa yang siap melakukan pengorbanan. Meski sebagian besar pemuda-pelajar yang menghadiri Kongres itu berasal dari Jawa, mereka rela berkorban tidak memaksakan bahasa mayoritas (bahasa Jawa) sebagai bahasa persatuan. Demi mengusung gagasan kebangsaan yang tanpa-konflik mereka sepakat menjadikan bahasa Melayu-Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Sumpah Pemuda juga mencerminkan kebesaran jiwa yang siap melakukan pengorbanan. Meski sebagian besar pemuda-pelajar yang menghadiri Kongres itu berasal dari Jawa, mereka rela berkorban tidak memaksakan bahasa mayoritas (bahasa Jawa) sebagai bahasa persatuan. Demi mengusung gagasan kebangsaan yang tanpa-konflik mereka sepakat menjadikan bahasa Melayu-Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Peristiwa ini juga menjadi permulaan bangkitnya perlawanan
Bangsa Indonesia terhadap penjajah melalui sistem organisasi dan bukan secara
fisik (kekerasan) lagi. Karena memberikan perlawanan menggunakan sistem
organisasi lebih menguntungkan dibanding menggunakan kekerasan fisik. Hal ini
mereka lakukan bukan semata-mata untuk menunjukan semangat jiwa tetapi juga
kepentingan seluruh umat manusia di tanah air.
Tanggapan
: bahwa cinta kasih dalam wujud pengorbanan telah diberikan para pemuda Bangsa
kepada Tanah Air.
Saran
: Namun menurut saya pengorbanan yang
mereka lakukan bisa dibilang sia-sia karena berbagai perubahan yang terjadi
selama ini yang kita jalankan tidak membawa bangsa ke arah yang lebih baik,
karena lemahnya komitmen dan semangat pengorbanan untuk memunculkan idealitas
ke realitas. Sulit bagi kita untuk menemukan kejiwaan dan pengorbanan seperti
yang dilakukan para pemuda-pemudi tersebut. Kebanyakan orang selalu
mementingkan kebutuhan individu masing-masing.
No comments:
Post a Comment