Tuesday, December 16, 2014

HIV


    Virus imunodifisiensi manusia (bahasa Inggris: human immunodeficiency virus; HIV ) adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Tanpa pengobatan, seorang dengan HIV bisa bertahan hidup selama 9-11 tahun setelah terinfeksi, tergantung tipenya. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun.Penyaluran virus HIV bisa melalui penyaluran Semen (reproduksi), Darah, cairan vagina, dan ASI. HIV bekerja dengan membunuh sel-sel penting yang dibutuhkan oleh manusia, salah satunya adalah Sel T pembantu, Makrofaga, Sel dendritik. Ini menyebabkan penurunan pada angka CD4 Sel T.
    Di tahun 2014, the Joint United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS) memberikan rapor merah kepada Indonesia sehubungan penanggulangan HIV/AIDS. Pasien baru meningkat 47 persen sejak 2005. Kematian akibat AIDS di Indonesia masih tinggi, karena hanya 8 persen Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) yang mendapatkan pengobatan obat antiretroviral (ARV).
    Para peneliti mungkin telah menentukan mengapa tubuh begitu lamban membuat antibodi yang efektif melawan HIV. Berdasarkan rincian penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLoS Medicine edisi Juli 2009 versi internet, HIV melumpuhkan produksi sel B pembuat antibodi hanya dalam 17 hari setelah terinfeksi.
    Antibodi adalah protein kecil yang membunuh atau mengikat organisme asing agar dikeluarkan oleh sel sistem kekebalan. Antibodi dibuat oleh sel B, khusus terhadap masing-masing infeksi. Pada HIV, pengembangan antibodi terhadap jenis virus yang masuk ke dalam tubuh adalah cukup lamban – kadang pembuatannya membutuhkan hingga beberapa bulan untuk mencapai jumlah yang cukup. Sebaliknya, banyak infeksi virus dan bakteri lain yang memicu pembuatan antibodi dalam beberapa hari setelah infeksi. Namun, sejauh ini, belum ada yang mampu menjelaskan dan membuktikan mengapa tanggapan antibodi terhadap HIV begitu lamban.
    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Marc Levesque MD. PhD, dari Fakultas Kedokteran Universitas Duke di Durham, North Carolina, AS dan rekan memeriksa jumlah sel B dalam contoh darah atau kelenjar getah bening di usus yang diambil dari 26 orang yang baru terinfeksi. Tingkat sel B dalam darah diukur pada 17 hari setelah infeksi pada 26 orang, dan pada jaringan usus pada 47 hari setelah infeksi pada 14 orang. Beberapa pasien langsung mulai terapi antiretroviral (ART), sementara yang lain tidak. Contoh darah pasien dari kedua kelompok dibandingkan dengan contoh darah yang diambil dari peserta penelitian yang HIV-negatif.
    Hanya 17 hari setelah infeksi, tim Levesque menemukan tanda kerusakan yang bermakna pada sel B. Jumlah sel B naif pada pasien terinfeksi HIV adalah separuh dari jumlah sel B naif pada pasien HIV-negatif. Sel B naif adalah penting, karena sel tersebut dapat dilatih agar menanggapi organisme baru yang masuk ke dalam tubuh, misalnya HIV.
     Setelah 47 hari infeksi, juga ada tanda kerusakan yang bermakna pada ketiga kelompok sel pada kelenjar getah bening di usus (disebut Peyer’s patches) – sel dendritik folikular, sel CD4 dan sel B, semuanya yang harus bekerja sama untuk menyusun tanggapan antibodi yang dibutuhkan. Lebih lanjut, kelompok Levesque menemukan, kian tinggi viral load seseorang, kemungkinan memiliki kerusakan getah bening lebih tinggi.
   Para penulis berpendapat bahwa HIV mungkin menyebabkan sebagian besar kerusakan yang diamati dengan terlalu menggiatkan akibat sistem kekebalan. Dirancang untuk membunuh penyerang asing, sistem kekebalan dapat melawan dirinya sendiri dan mengakibatkan sel menjadi mati lebih awal, lebih cepat daripada jumlah sel baru dapat menggantikannya secara tepat. Para penulis juga berkomentar bahwa penelitian mereka dapat mempengaruhi penelitian pada vaksin yang kebanyakan dirancang untuk menghentikan atau mengendalikan infeksi melalui antibodi.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/HIV





No comments:

Post a Comment